Tuesday, November 28, 2017

50 Warga Kembangan Ikut Pembinaan Kewirausahaan.

50 Warga Kembangan Ikut Pembinaan Kewirausahaan

www.beritajakarta.co.id

Reporter : Folmer.
Editor : Budhy Tristanto.
Selasa, 28 November 2017.
Sebanyak 50 warga dari enam kelurahan di wilayah Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (28/11), mengikuti pembinaan kewirausahaan yang digelar Suku Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Sudin KUKMP) Jakarta Barat. 
" Kami siap memberikan rekomendasi ke PTSP untuk mengurus perizinan usaha kecil,"
Kasudin KUKMP Jakarta Barat, Nuraeni Sylviana mengatakan, kegiatan ini digelar dalam rangka pelaksanaan program One Kecamatan One Centre for Entrepreneurship (OK OCE) yang bertujuan memberdayakan masyarakat menjadi wirausaha baru.
"Tahun depan, pembinaan kewirausahawan baru dilakukan kepada 1.000 orang per kecamatan se-Jakarta Barat. Untuk itu, kami bekerja sama dengan lurah untuk mendata warga yang ingin membuka maupun yang sudah memiliki wirausaha untuk dibina," katanya. 
Ia menambahkan, pihaknya juga siap memberikan pendampingan maupun pelatihan lebih lanjut bagi warga yang telah mengikuti pembinaan kewirausahawan di sekretariat OK OCE setiap kantor kecamatan maupun tempat kumpul kreatif.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nur Afni Sajim, yang ikut hadir dalam kegiatan ini, meminta warga dapat membuka dan mengembangkan wirausaha setelah mengikuti pembinaan kewirausahawan.
"Jangan jenuh dan putus asa karena program yang gencar digiatkan Pemprov DKI mampu mendorong usaha kecil warga berkembang di masa mendatang," tandasnya.

Saturday, November 18, 2017

Kecamatan Tanah Abang Siapkan Ruangan Sekretariat OK OCE.

Kecamatan Tanah Abang Siapkan Ruangan Sekretariat OK OCE

www.beritajakarta.id
Reporter : Wuri Setyaningsih
Editor : Rio Sandiputra
Jumat, 17 November 2017.

Sebuah ruangan untuk kesekretariatan OK OCE disiapkan, di lantai dasar gedung Kantor Kecamatan Tanah Abang di Jalan KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat. Namun sebelum digunakan, ruangan tersebut akan diperbaiki terlebih dahulu.
" Untuk renovasi kita anggarkan Rp 100 juta untuk tahun depan"
"Luasnya sekitar 35 meter persegi, hanya perlu perbaikan saja," ujar Dedi Arif Darsono, Camat Tanah Abang, Jumat (17/11).
Dikatakan Dedi, perbaikan dilakukan untuk plafon dan beberapa petak ubin ada yang rusak. Sementara tembok harus dibersihkan dan dicat ulang. "Untuk renovasi kita anggarkan Rp 100 juta untuk tahun depan," ucapnya.
Kesekretariatan OK OCE memang hanya hingga tingkat kecamatan. Nantinya warga ataupun pelaku usaha kecil menengah (UKM) bisa berkonsultasi dan mencari info lowongan pekerjaan di tempat tersebut.
"Saya harap dengan adanya kantor sekretariat ini, warga dapat memanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Yang punya usaha semakin berkembang, yang mau usaha cepat punya usaha dan yang pengangguran cepat bekerja," tandasnya.

Tuesday, October 31, 2017

Alexis Tutup, Pengusaha Hiburan Kecewa Anies-Sandi Tak Buka Ruang Dialog.


Lantai 7 Hotel Alexis, Pademangan, Jakarta Utara, Selasa (31/10/2017).













JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta menyayangkan sikap Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, yang tidak membuka ruang dialog hingga memutuskan tidak melanjutkan izin operasi Hotel dan Griya Pijat Alexis.
Para pengusaha hiburan selain Alexis kini khawatir usaha mereka yang tidak pernah melanggar aturan terancam ditutup.
"Kami, pengusaha, tidak diberikan peluang dialog dan tatap muka silaturahim saat Pak Anies menjadi Gubernur baru," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta, Gea Hermansyah, kepada Kompas.com, Selasa (31/10/2017).
Gea menyebutkan, saat masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies-Sandi berjanji akan menggandeng semua pihak tanpa terkecuali untuk sama-sama membangun Jakarta.
Namun, kenyataannya dalam penutupan Alexis, janji merangkul semua pihak tidak terlihat.
"Setiap kepala daerah atau pemimpin baru kan harusnya silaturahim dengan berbagai pihak yang punya andil, salah satunya pengusaha," ujar Gea.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu mengeluarkan surat pernyataan bahwa izin usaha Hotel dan Griya Pijat Alexis tidak diperpanjang.
Izin usaha Alexis berakhir pada 27 Oktober 2017, dan kini manajemen Alexis telah merumahkan sekitar 1.000 pekerjanya di sana, mulai dari karyawan tetap sampai pekerja harian lepas.

Tuesday, August 15, 2017

"MA... AKU KE SURGA DULU, TERLALU LELAH DISINI!" (KISAH NYATA ).

Detik Selanjutnya Ia Pun “Terjun Bebas” dari Lantai 21! 

Hati ibu Shu-shu ini sepenuhnya hancur sambil memeluk tubuh putrinya yang telah dingin membeku.

Sang ibu menyekolahkan putrinya yang “bodoh” ke universitas bergengsi di seluruh negeri, kemudian memasukkannya ke firma hukum terkenal di Dalian, betapa besar pengorbanan seorang ibu untuk putrinya ini! Namun, baru satu tahun lulus, sang putri membalas jasa ibunya dengan cara seperti ini, menyedihkan!

Anak-anak adalah harapan kedua orang tua. Tak dipungkiri orang tua memang punya banyak harapan dan berharap anaknya menjadi sesosok orang yang sukses suatu hari nanti.

Siapa sangka, kalau ada sedikit saja kesalahan di tengah-tengah ini, maka akan terjadi hal yang menyedihkan seperti kisah nyata berikut ini.

Ibu bernama Liu Yu yang telah menginjak usia 50 tahun ini adalah lulusan full-time undergraduate yang bisa dihitung dengan jari diantara teman-teman seusianya ketika itu.

Setelah lulus, Liu mengabdikan dirinya menjadi pendidik di sekolah. Karena sangat menonjol, ia selalu mendapatkan posisi yang bagus sepanjang kariernya.

Di usianya yang ke 35 tahun, ia telah menjadi wakil kepala Department of Business Administration di Dalian University, Tiongkok, adalah seorang profesor dan staf menengah termuda di universitas tersebut ketika itu.

Sementara suaminya adalah seorang pegawai negri yang punya kedudukan tinggi. Keberhasilan dari pasangan ini membuat banyak orang yang iri hati.

Pada tahun 1984, Liu Yu melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Shu-shu. Dia berkata kepada suaminya, anak kita harus lebih meonjol dibanding anak keluarga lain.

Namun, kondisi putrinya membuat ibu Liu tercengang : 1 tahun 7 bulan, saat anak lainnya sudah bisa berlari kesana kemari, Shu-shu bahkan belum bisa berjalan dengan lancar.

Selain itu, perkembangan kemampuan berbicara Shu-shu juga lambat, ketika anak lainnya sudah mulai bisa memanggil “tante”, “nenek” dan sebagainya. Shu-shu bahkan masih sulit mengucapkan kata papa dan mama.

Kondisi putrinya ini tentu saja membuat ibu Liu merasa sangat kecewa.

Hal yang membuat ibu Liu semakin kecewa adalah ketika Shu-shu masuk sekolah dasar. Shu-shu selalu mendapatkan nilai nol setiap kali ujian, bahkan untuk soal yang terhitung mudapun, ia tidak mengerti.

Agar bisa membuat putrinya pintar, ibu Liu kemudian memaksa putrinya minum berbagai suplemen setiap hari. Namun, bukan hanya nilai Shu-shu tidak bertambah baik, Shu-shu justeru tumbuh dewasa lebih cepat, baru SD sudah menstruasi.

Setelah temannya yang menjadi dokter menyarankan, sang ibubaru menghentikan “program menguatkan otak” untuk anaknya.

Tapi hal itu tidak membuat ibu Liu menyerah untuk menciptakan “program unggulan” bagi anaknya. Ia mengatur waktu belajar Shu-shu dengan padat, dan mencari berbagai guru privat yang ahli untuk membimbing Shu-shu.

Hasil bimbingan ternyata tidak mengecewakan, Shu-shu berhasil mendapatkan juara pertama di kelas 5 SD untuk pertama kalinya.

Liu tentu merasa sangat senang dan mulai meminta Shu-shu untuk ikut pertandingan cerdas cermat nasional. Sayangnya sekali lagi Liu dikecewakan oleh hasil anaknya. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan, sementara lawannya sudah tahu jawabannya.

Shu-shu belakangan menuliskan dalam buku diarinya, Shu-shu kesal bukan main begitu terbayang dengan hal itu :

“Responku memang lambat, aku selalu jadi yang terakhir dalam setiap kegiatan. Tapi, mama tidak mau mengakui kelemahanku ini, dia selalu merasa dia dan papa adalah orang yang hebat, sehingga mereka berpikir, dengan turunan genetik yang sama, mana mungkin tidak pintar ? Jadi, punya orang tua yang hebat tidal selalu bagus, aku tidak bahagia, mereka juga hidup tersiksa karena diriku”.

Pada musim panas tahun 1997, Shu-shu akhirnya sekolah di SMP. Ibunya menguras habis tabungannya, mencari lagi seorang guru yang hebat untuk les Shu-shu di malam hari.

Shu-shu ditempa untuk menjadi anak yang selalu lebih unggul dari yang lainnya. Ibunya juga puas akan nilai yang dicapai Shu-shu dan berkata, “Kepintaran kamu itu adalah hasil galian yang mama paksakan.”

Pada tahun 2000, Shu-shu masuk SMA ternama, tapi di ujian pertama kali, ia ternyata tidak lulus di banyak mata pelajaran.

Karena masalah tersebut, wali kelas Shu-shu memanggil ibunya untuk bicara, ia curiga Shu-shu sebelumnya sudah mendapat bocoran sehingga bisa diterima di SMA tersebut.

Hal ini membuat ibu marah lalu berkata, “Saya bisa menggugatmu atas fitnahan ini!”

Kemudian Liu membawa hal ini ke kepala sekolah, sehingga wali kelas tersebut akhirnya meminta maaf. Ia juga meminta supaya Shu-shu dipindah ke kelas terbaik di SMA tersebut agar tidak lagi diajar oleh wali kelas tersebut.

Tapi Shu-shu yang memang pada dasarnya tidak bisa mengikuti pelajaran berkata mau keluar sekolah satu minggu kemudian.

Shu-shu yang selalu menurut mamanya berkata pada mamanya : “Saya mau pindah sekolah.”

Ibunya seketika melotot mendengar keinginan putrinya.

Tapi Shu-shu ngotot ingin pindah sekolah .

“Saya sama sekali tidak paham dengan penjelasan guru. Bagi saya, mata pelajaran SMA itu sangat sulit. Saya ingin pindah sekolah kesusteran dan bekerja di rumah jompo,” kata Shu-shu yang hampir membuat mamanya tersedak mendengarnya.

Ibunya marah besar karena hal ini, walaupun suaminya sudah membujuknya untuk menghormati keputusan Shu-shu, tapi reaksi ibu Liu sangat keras dan malah berkata, “Banyak anak yang lebih buruk dari Shu-shu bisa kuliah, atas dasar apa dia tidak bisa? Hei Liang Jun (Suami ibu Lu), kamu dengar baik-baik ya, kecuali besok aku mati, kalo tidak, aku pasti akan memasukkan Shu-shu ke universitas bergengsi!”

Liu mulai turun tangan mengajar anaknya. Tahun 2003, Shu-shu akhirnya masuk fakultas ekonomi sebuah universitas ternama.

Liu menangis begitu menerima lembar penerimaan dari universitas. Sementara Liang Jun, suaminya sangat bersukur atas upaya keras istrinya : “Kalau bukan kamu, Shu-shu pasti tidak ada harapan lagi.”

Di semester pertamanya, Shu-shu adalah mahasiswi satu-satunya yang mata kuliahnya paling banyak gagal. Shu-shu akhirnya harus diam di rumah dan belajar.

Shu-shu menuliskan dalam diarinya, “Mama yang pintar melahirkan anak yang tidak pintar, tapi tidak mau menerima kenyataan. Kasihan. Anak yang tidak pandai memiliki seorang ibu yang pintar, dan anaknya dipaksa harus pintar, menyedihkan”.

Dengan usaha keras akhirnya Shu-shu menamatkan kuliahnya.

Di hari terakhir kuliah dia menyampaikan kesan-pesan kuliahnya, “Lulus, semua orang senang akhirnya terjun ke masyarakat, dan berdikari, tapi yang paling menggembirakanku adalah aku tidak perlu belajar lagi. Lelah rasanya 16 tahun perjalanan di sekolah, dan saking lelahnya sampai-sampai membuatku berulang kali tidak mau hidup lagi.”

Ibunya tidak berhenti sampai disitu, ia berusaha memasukkan anaknya ke sebuah kantor pengacara. Shu-shu memiliki atasan yang sangat ketat.

Di hari pertamanya bekerja, pengacara memberikan Shu-shu pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. Ketika Shu-shu minta tolong pada rekan kerjanya, semua sedang sibuk dan tidak bisa membantunya.

Malamnya Shu-shu dimarahi atasannya. dan Shu-shu hanya bisa menangis. Karena tertekan ia mengatakan pada mamanya tidak mau bekerja lagi. Ibu Liu tentu marah, namun semua itu diterima Shu-shu dengan cara diam.

Semakin lama Shu-shu semakin terpuruk di kantornya dan semakin ingin keluar dari sana.

Karena selalu hidup tertekan sejak kecil hingga lulus kuliah dan terjun ke masyarakat, Shu-shu akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya, ia melompat dari lantai 21 dan tewas seketika.

Beberapa hari kemudian, ibu Liu yang tidak mampu menerima kenyataan itu menemukan sebuah surat dari Shu-shu yang isinya, “Papa, mama, aku selalu berharap bisa menjadi anak seperti yang kalian harapkan. Tapi, bagaimanapun aku bukanlah anak tipe seperti itu. Aku lelah, benar-benar lelah, aku selalu hidup di lingkungan yang bukan milikku, kelebihan orang lain selalu menonjolkan kebodohanku. Aku sangat lelah, dan ingin istirahat, mungkin di surga nanti aku bisa bertemu dengan teman-temanku yang tidak pintar tapi bahagia.”

Huruf demi huruf yang ditorehkan untuk terakhir kalinya oleh Shu-shu putri mereka itu membuat Liu terpukul dan sadar seketika., tapi sudah terlambat.

Ketika diwawancarai, Liu mengatakan sambil menangis : “Saya menceritakan masalah keluarga ini, hanya ingin menyadarkan para orangtua lainnya atas hal yang dialami putri saya. Pepatah Turki mengatakan “Tuhan saja menyiapkan pohon yang pendek bagi burung yang bodoh”. Kalimat ini saya kutip dari buku diari Shu-shu, tapi aku selalu memaksa Shu-shu terbang ke pohon tinggi yang memang bukan untuknya, hingga akhirnya dia jatuh.

Friday, June 30, 2017

PENGAMPUNAN.

*KELUARGA, TEMPAT PENGAMPUNAN*

Tidak ada keluarga yang sempurna. 
Kita tidak punya orang tua yang sempurna. 
Kita tidak menikah dengan orang yang sempurna atau punya anak yang sempurna.

Kita saling mengeluh tentang satu dan lainnya.
Kita saling membuat kecewa.

Jadi tidak ada keluargà yang sehat atau keluarga tidaklah akan sehat kalau dia tidak mempraktekkan PENGAMPUNAN.

Pengampunan itu sangat penting bagi kesehatan emosi, ketahanan jiwa dan spritualitas kita.
Tanpa pengampunan keluarga akan menjadi arena konflik dan tempat bagi semua hati yang terluka.
Tanpa pengampunan, keluarga akan sakit.

Pengampunan adalah pelindung jiwa, pembersih pikiran dan pembebasan hati.

Siapapun yang tidak mengampuni tidak akan mendapatkan kedamaian jiwa ataupun bisa bersatu dengan Tuhan.

Rasa sakit/luka adalah racun yang sangat berbahaya dan bisa membunuh. 
Mempertahankan rasa sakit di hati adalah tindakan penghancuran diri. 

Pengampunan adalah sebuah pembersihan diri.
Siapa pun yang tidak mengampuni maka 
baik secara fisik, emosi dan spiritual sakit.

Itu sebabnya keluarga haruslah menjadi tempat kehidupan, bukan tempat kematian, 
wilayah untuk pengobatan dan bukan untuk penyakit, arena pengampunan bukan arena rasa bersalah.

*Pengampunan itu membawa kebahagiaan dimana hati cemas yang membuat sedih disembuhkan, karena kecemasan adalah sumber penyakit.*

*Pope Francisco*

Monday, April 10, 2017

2018, pemerintah bakal salurkan Rp 1,4 miliar per desa.


Merdeka.com - Pemerintah bakal menganggarkan dana sebesar Rp 120 triliun untuk 74.910 desa di Tanah Air pada tahun mendatang. Dengan kata lain, setiap desa bakal mendapatkan dana sebesar Rp 1,4 miliar.
"Ini untuk mendukung pembangunan di Indonesia yang di mulai dari desa sesuai dengan Program Presiden Jokowi," kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, di Jakarta, Minggu (9/4).
Dia menyebut, setiap tahun anggaran desa selalu meningkat. Pada 2016, pemerintah mengalokasikan dana desa sebesar Rp 46,9 triliun. Tahun ini meningkat menjadi sebesar Rp 60 triliun.
Menurut Eko, dana tersebut harus dimanfaatkan untuk pengembangan produk unggulan dan Badan Usaha milik Desa (BUMDes). Kemudian pembangunan embung dan sarana olah raga desa.
"Pemerintah telah mencanangkan pembangunan 30 ribu embung pada 2017 di daerah tanah tadah hujan dengan areal sekitar 4 juta hektar (ha)," jelasnya.
"Setiap desa wajib menyisihkan dana Rp 200 sampai 500 juta untuk membuat embung." [yud]

Dirikan Mitra BUMDes, Kemendes dan Bulog Percepat Pertumbuhan Ekonomi Perdesaan.


Dirikan Mitra BUMDes, Kemendes dan Bulog Percepat Pertumbuhan Ekonomi Perdesaan
















Jakarta, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bersama Bulog dan BUMN membentuk PT Mitra BUMDes Nusantara (MBN) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di desa-desa. PT MBN dibentuk sebagai holding untuk mengkoordinir Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
 
“Dengan adanya PT Mitra BUMDes Nusantara ini diharapkan seluruh BUMDes akan ada di seluruh Indonesia dan ada pendampingan. Kemudian program-program pemerintah akan bisa disalurkan melalui PT MBN. Lembaga ini diharapkan bisa menjadi link and match antara usaha kecil dan industri besar sebagai sebuah tim,” ujar Mendes PDTT Eko Sandjojo saat acara pembentukan PT Mitra BUMDes Nusantara di kantor Bulog, Jakarta, Selasa (4/4). 
 
Menteri Eko menambahkan, alasan menggandeng Bulog karena lembaga tersebut mampu menjangkau daerah pertanian dan memahami proses pascapanennya. Bulog mengambil inisiatif bersama Kopelindo dan dibantu empat Bank BUMN lainnya untuk memperkuat manajemen PT MBN. Skema yang disiapkan yakni 51 persen kepemilikan saham akan dipegang oleh PT. MBN. Sementara sisanya akan dipegang oleh BUMDes.

“Kami siapkan organisasi minimalnya. Kami juga siapkan sumber daya manusianya. SDM di pusat sudah disiapkan dalam tim. Pedesaaan kini juga sudah ada peran. Kami juga gandeng BUMN. Artinya, yang kita ingin raih bukan sekedar uang, melainkan tenaga mereka yang bisa menjadi pemimpin di daerahnya,” jelas Direktur Utama Bulog, Djarot Kusumayakti. 
 
Selain itu, lanjut Djarot, Mitra BUMDes juga akan menjadi kepanjangan tangan bagi Bulog untuk masuk pada ekonomi pedesaan. Seluruh proses keterjangkauan pangan dan produk dapat ditangani dengan baik.
 
“Hari ini simbol kesepakatan kemajuan lebih nyata lagi. Ini dapat dilaksanakan penuh tanggung jawab dalam rangka mewujudkan negara berkedaulatan pangan dan ekonomi yang berkeadilan,” ujar Djarot.
 
Pada tahap awal, PT MBN akan menjadi mitra pengadaan untuk produksi di desa. Dari proses tersebut, desa akan diarahkan untuk menjadi lumbung-lumbung pangan desa serta sebagai transaksi perdagangan pangan. Djarot menambahkan, lahirnya PT MBN bukan untuk menjadi pesaing. Nantinya, insentif yang masuk ke desa akan disalurkan melalui badan tersebut dengan formula yang menguntungkan bagi desa dan Mitra BUMDes.
 
“Jangan sampai timbul persepsi PT MBN akan mematikan usaha bisnis yang telah ada. Saya pesan kepada komisaris dan direksi Mitra BUMDes, jangan pernah mengambil alih bisnis yang sudah dilakukan masyarakat. Yang boleh kita lakukan adalah menambah kapasitas pasarnya, teknologinya, dan serapan bahan bakunya,” tutupnya. (Red: Fathoni)